Kamis, 19 Maret 2009

Just Can Say "Thank's"

Karya : Istiqomah Sari Kumarawati

Saat diriku menangis dalam kebimbangan

Kau ayunkan selembar selendang

Kau peluk aku dalam dekapan

Terbaring aku di dalam kehangatan kasih sayang

Diantara melodi- melodi yang menghiasi

Saat diriku tersesat dalam kegelapan

Kau selalu hadirkan sejuta kunang- kunang

Saat aku menghadapi perang

Kau beri aku beribu- ribu pedang


Kau berikan secercah cahaya itu utuk hatiku

Kau belai ragaku dengan gerak- gerik jemarimu

Kau pancarkan senyum bulan sabitmu

Untuk menghantarkanku menjelajahi luar angkasa

Hanyalah terima kasih yang dapat aku katakan

Hanya permintaan maaf yang dapat aku ucapkan

Karena diriku hanyalah insan yang tiada berdaya

Insan yang tak bisa apa- apa

Untuk membalas kucuran keringatmu pun aku tak mampu

Apalagi setetes darah merahmu

Ibu…

Jika tutur kataku sering menyakiti

Cabutlah duri yang yang tajam itu

Berikanlah pintu ampunan untukku

Untuk menjauhkan dosa yang menodai hatiku


TERJADINYA PELANGI
Fenomena alam ini hanya muncul sehabis hujan. Begitu indah sehingga menginspirasi banyak lagu, dongeng, dan legenda. Terjadinya pelangi adalah karena adanya pembiasan cahaya. Ketika dibiaskan, cahaya akan berubah arah. Biasanya. pembelokan ini terjadi ketika cahaya pindah dari medium satu ke yang lain.Hal ini terjadi karena cahaya bergerak dengan kecepatan berbeda dalam medium berlainan. Ketika memasuki prisma kaca, cahaya akan dibelokkan. Begitu pula jika keluar dari prisma. Selain membiaskan cahaya, prisma memisahkan cahaya putih menjadi komponen warnanya. Warna cahaya yang berlainan ini berbeda frekuensinya, sehingga memiliki kecepatan tempuh berbeda ketika memasuki suatu zat. Cahaya yang kecepatannya rendah di dalam kaca akan dibelokkan lebih tajam ketika pindah dari udara ke kaca, karena perbedaan kecepatannya berlainan. Tak mengherankan jika komponen yang membentuk cahaya putih dipisahkan berdasarkan frekuensinya ketika melewati kaca. Pada prisma, cahaya akan dibelokkan dua kali, ketika masuk dan keluar, sehingga penyebaran cahaya terjadi.

Tetesan air hujan dapat membiaskan dan menyebarkan cahaya mirip sebuah prisma. Dalam kondisi yang tepat, pembiasan cahaya ini membentuk pelangi.
Gejala optik dan meteorologi yang menyebabkan spektrum dari cahaya yang (hampir) kontinyu untuk muncul di langit waktu matahari bersinar ke atas titik air hujan yang jatuh sehingga juga dapat terbentuk pelangi. .Dari peristiwa yang menyebabkan sinar monokromatik menjadi 7 sinar polikromatik yang dikenal dengan mejikuhibiniu, yaitu Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu. Adakalanya juga muncul dua pelangi yang muncul bersamaan, pelangi “kembaran” ini lebih besar dan lebih pucat, serta urutan pita warnanya kebalikan dari pelangi “asli”. Situasi ini disebabkan karena berkas cahaya matahari di pantulkan dua kali pada tiap tetes air hujan.

Panjang gelombang cahaya dapat membentuk pita garis-garis paralel, tiap warna bernuansa dengan warna di sebelahnya. Pita ini disebut "spektrum". Di dalam spektrum, garis merah selalu berada pada salah satu ujung dan biri serta ungu disisi lain, dan ini ditentukan oleh perbedaan panjang gelombang.

Ketika kita melihat pelangi, sama saja dengan ketika kita melihat spektrum. Bahkan, pelangi adalah spketrum melengkung besar yang disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari. Ketika cahaya matahari melewati tetesan air, ia membias seperti ketika melalui prisma kaca. Jadi didalam tetesan air, kita sudah mendapatkan warna yang berbeda memanjang dari satu sisi ke sisi tetesan air lainnya. Beberapa dari cahaya berwarna ini kemudian dipantulkan dari sisi yang jauh pada tetesan air, kembali dan keluar lagi dari tetesan air.

Cahaya keluar kembali dari tetesan air kearah yang berbeda, tergantung pada warnanya. Dan ketika kita melihat warna-warna ini pada pelangi, kita akan melihatnya tersusun dengan merah di paling atas dan ungu di paling bawah pelangi.

Pelangi hanya dapat dilihat saat hujan bersamaan dengan matahari bersinar, tapi dari sisi yang berlawanan dengan si pengamat. Posisi kita harus berada diantara matahari dan tetesan air dengan matahari dibekalang kita. Matahari, mata kita dan pusat busur pelangi harus berada dalam satu garis lurus.

Ketika kita melihat pelangi, sama saja dengan ketika kita melihat spektrum. Bahkan, pelangi adalah spketrum melengkung besar yang disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari. Ketika cahaya matahari melewati tetesan air, ia membias seperti ketika melalui prisma kaca. Jadi didalam tetesan air, kita sudah mendapatkan warna yang berbeda memanjang dari satu sisi ke sisi tetesan air lainnya. Beberapa dari cahaya berwarna ini kemudian dipantulkan dari sisi yang jauh pada tetesan air, kembali dan keluar lagi dari tetesan air.

Cahaya keluar kembali dari tetesan air kearah yang berbeda, tergantung pada warnanya. Dan ketika kita melihat warna-warna ini pada pelangi, kita akan melihatnya tersusun dengan merah di paling atas dan ungu di paling bawah pelangi.

Pelangi hanya dapat dilihat saat hujan bersamaan dengan matahari bersinar, tapi dari sisi yang berlawanan dengan si pengamat. Posisi kita harus berada diantara matahari dan tetesan air dengan matahari dibekalang kita. Matahari, mata kita dan pusat busur pelangi harus berada dalam satu garis lurus.


Tyrannosaurus (t-rex)


Tyrannosaurus pronounced, meaning 'tyrant lizard' is a genus of theropod dinosaur. The famous species Tyrannosaurus rex ('rex' meaning 'king' in Latin), commonly abbreviated to T. rex, is a fixture in popular culture around the world. It lived throughout what is now western North America, with a much wider range than other tyrannosaurids. Fossils of T. rex are found in a variety of rock formations dating to the last three million years of the Cretaceous Period, approximately 68 to 65 million years ago; it was among the last non-avian dinosaurs to exist prior to the Cretaceous–Tertiary extinction event.
Tyrannosaurus was a bipedal carnivore with a massive skull balanced by a long, heavy tail. Relative to the large and powerful hindlimbs, Tyrannosaurus forelimbs were small, though unusually powerful for their size, and bore two clawed digits. Although other theropods rivaled or exceeded T. rex in size, it was the largest known tyrannosaurid and one of the largest known land predators, measuring up to 13 metres (43 ft) in length, up to 4 metres (13 ft) tall at the hips, and up to 6.8 metric tons (7.5 short tons) in weight. By far the largest carnivore in its environment, T. rex may have been an apex predator, preying upon hadrosaurs and ceratopsians, although some experts have suggested it was primarily a scavenger.
More than 30 specimens of T. rex have been identified, some of which are nearly complete skeletons. Soft tissue and proteins have been reported in at least one of these specimens. The abundance of fossil material has allowed significant research into many aspects of its biology, including life history and biomechanics. The feeding habits, physiology and potential speed of T. rex are a few subjects of debate. Its taxonomy is also controversial, with some scientists considering Tarbosaurus bataar from Asia to represent a second species of Tyrannosaurus and others maintaining Tarbosaurus as a separate genus. Several other genera of North American tyrannosaurids have also been synonymized with Tyrannosaurus.
Tyrannosaurus is the type genus of the superfamily Tyrannosauroidea, the family Tyrannosauridae, and the subfamily Tyrannosaurinae; in other words it is the standard by which paleontologists decide whether to include other species in the same group. Other members of the tyrannosaurine subfamily include the North American Daspletosaurus and the Asian Tarbosaurus, both of which have occasionally been synonymized with Tyrannosaurus. Tyrannosaurids were once commonly thought to be descendants of earlier large theropods such as megalosaurs and carnosaurs, although more recently they were reclassified with the generally smaller coelurosaurs.
In 1955, Soviet paleontologist Evgeny Maleev named a new species, Tyrannosaurus bataar, from Mongolia. By 1965, this species had been renamed Tarbosaurus bataar. Despite the renaming, many phylogenetic analyses have found Tarbosaurus bataar to be the sister taxon of Tyrannosaurus rex, and it has often been considered an Asian species of Tyrannosaurus. A recent redescription of the skull of Tarbosaurus bataar has shown that it was much narrower than that of Tyrannosaurus rex and that during a bite; the distribution of stress in the skull would have been very different, closer to that of Alioramus, another Asian tyrannosaur. A related cladistic analysis found that Alioramus, not Tyrannosaurus, was the sister taxon of Tarbosaurus, which, if true, would suggest that Tarbosaurus and Tyrannosaurus should remain separate.
Other tyrannosaurid fossils found in the same formations as T. rex were originally classified as separate taxa, including Aublysodon and Albertosaurus megagracilis, the latter being named Dinotyrannus megagracilis in 1995. However, these fossils are now universally considered to belong to juvenile T. rex. A small but nearly complete skull from Montana, 60 centimetres (2.0 ft) long, may be an exception. This skull was originally classified as a species of Gorgosaurus (G. lancensis) by Charles W. Gilmore in 1946, but was later referred to a new genus, Nanotyrannus. Opinions remain divided on the validity of N. lancensis. Many paleontologists consider the skull to belong to a juvenile T. rex. There are minor differences between the two species, including the higher number of teeth in N. lancensis, which lead some scientists to recommend keeping the two genera separate until further research or discoveries clarify the situation.

Minggu, 15 Maret 2009

BINTANG BEREKOR

BINTANG BEREKOR

Komet merujuk kepada gumpalan batu, air, dan tanah yang bergerak mengelilingi matahari di angkasa. Kadang kala, komet ini ditarik oleh gravitasi dan jatuh ke Bumi, Bulan, atau planet-planet yang lain. Komet memiliki orbit atau lintasan yang berbentuk elips, lebih lonjong dan panjang daripada orbit planet. Namun disebabkan oleh asalnya komet dari luar sistem surya, dan kecenderungannya tertarik kepada planet besar, orbit komet sentiasa berubah. Sesetengah akan terlalu hampir dengan matahari lalu terbakar musnah, manakala yang lain terkeluar dari sistem surya buat selama-lamanya. Apa yang pasti, komet yang cerah akan menarik perhatian ramai.

>

1. Ciri fisik

Komet dipercayai berasal dari sejenis awan yang jauh dipanggil awan Oort. Ketika komet menghampiri bagian dalam sistem tata surya, radiasi dari matahari menyebabkan la

pisan luar air menguap. Arus debu dan gas yang dihasilkan membentuk suatu atmosfera yang besar tetapi sangat tipis di

sekeliling komet, disebut 'koma'. Akibat tekanan radiasi dan angin surya pada koma ini, terbentuklah ekor raksasa yang menjauhi matahari. Debu dan gas komet akan membentuk dua ekor yang berbeda, di mana ekor debu agak mengikut arah pergerakannya manakala ekor gas (ion) sentiasa menjauhi matahari. Ini disebabkan oleh angin surya lebih mempengaruhi ion gas daripada debu.

Komet mempunyai orbit berbentuk elips. Perhatikan ia mempunyai dua ekor.Ukuran diameter nukleus (bagian pijar di tengah) komet biasanya kurang dari 50 km. Namun size koma yang mengelilingi nukleus boleh mencapai 250,000 km lebar. Ekor komet pula boleh mencapai lebih 150,000,000 km (1 AU) panjang. Koma dan ekor komet membalikkan cahaya matahari dan boleh dilihat dari bumi jika komet itu cukup dekat. Ekor komet berbeda-beda bentuk dan sizenya. Lebih dekat komet tersebut dengan matahari, lebih panjanglah ekornya. Ada juga komet yang tidak berekor.

2. Ciri orbit

Komet bergerak mengelilingi matahari berkali-kali, tetapi peredarannya memakan masa yang lama. Komet dikelaskan mengikut tempoh masa orbitnya. Tempoh masa pendek adalah kurang dari 200 tahun manakala tempoh masa panjang adalah melebihinya. Secara umumnya bentuk orbit komet adalah elips.

3. Komet terkenal

Ahli falak telah menyenaraikan beribu-ribu buah komet, antara yang terkenal ialah:


Proses Reproduksi Pada Tumbuhan Berbunga


Proses Reproduksi Pada Tumbuhan Bunga dan Reproduksi

Bunga adalah bagian tumbuhan yang mengandung organ reproduksi, yaitu putik, benangsari, kelopak bunga, dan mahkota bunga.

Sama seperti halnya mahluk hidup lain, tumbuhan juga bereproduksi untuk mempertahankan kelangsungan spesiesnya. Tumbuhan berbunga melakukan reproduksi dengan cara membentuk biji. Biji terbentuk dengan jalan reproduksi seksual yaitu bergabungnya sel kelamin jantan dari serbuk sari dengan sel kelamin betina dari bakal buah.

Serbuk sari harus masuk ke bagian dalam bunga betina (putik) agar terjadi pembuahan. Ada bunga yang melakukan penyerbukan sendiri, yaitu benang sari berasal dari bunga yang sama. Ada penyerbukan dari bunga lain yang sejenis. Ada berbagai cara agar serbuk sari masuk ke dalam kepala putik. Pada gambar di atas serbuk sari menempel di seluruh bulu lebah dan kakinya, ketika hinggap di bunga lain serbuk sari akan jatuh ke dalam kepala putik dan membuahinya.

Bunga memiliki bagian jantan dan bagian betina. Bagian jantan adalah benang sari yang terdiri atas:
• tangkai sari
• kepala sari
• serbuk sari
Bagian betina adalah putik yang terdiri atas:

• bakal buah ( di dalam bakal bijinya terdapat sel kelamin betina)
• tangkai putik
• kepala putik
Kepala putik berujung lengket untuk menangkap butir-butir sel-sel jantan.
Bagian jantan dan betina pada bunga tumbuhan. Benang sari atau bagian jantan terdiri dari kepala sari dan tangkai sari. Putik atau bagian betina meliputi kepala putik, tangkai putik, dan bakal buah.
Baik benangsari maupun putik dilindungi oleh kelopak bunga dan daun mahkota. Keduanya membentuk mahkota bunga.
Polinasi atau penyerbukan terjadi ketika butir sel jantan dari benangsari masuk ke kepala putik bunga lalu turun ke tangkai putik untuk bergabung dengan bakal biji.
Ada juga tumbuhan yang bisa dikembangkan tanpa pembuahan (aseksual) yaitu dengan:
• mencangkok
• stek
• okulasi